Sepuluh angka tahun kita
menggulung kata jika.

Asri Nur Aini-Deas Achmad Rivai
5th August 2017

Sahabat Menelepon

Sahabatku Andriyana, menelepon 20 menit via whatsApp dan suaranya jernih sekali. Dan kami tertawa terus tak menyangka jarak Illinois US-Cilacap Indonesia bisa sejelas ini kami komunikasi. “Nyet, aku masih amazed sama ini,” kataku berkali-kali.

Meneguhkan Niat

Berkali-kali saya mengalami, bahwa dengan meneguhkan niat yang lurus akan memudahkan jalan. Kerap pula saya goyah dan menjadikan niat saya begitu kerdil namun mengganggap itu tak masalah. Padahal saya mengalami sendiri ketika ada niatan yang besar maka hasilnya akan besar pula. Ya Allah, bimbinglah aku, dan lindungi aku, jangan membuatku goyah dan berpaling…

September

musim yang berebut di bulan september
menyemai kata bersama suara lesung
kenanganmu terjepit di rahim kamboja
dan terikat pada benang-benang
dalam kain tenun yang kau pakai

dari langit kau menampi air hujan
untuk mengguyur ladang ingatan
tentang butir-butir cerita belia
terpendam di rindang tanjung

dari matamu kupungut getaran
yang mencengkeram setetes sunyi
berganti tawa yang kerontang
di bawah sepoi trembesi

jangan tergesa menggelar makna
sebatas pandanganmu tentang panorama
sementara ceruk nurani tersembunyi
meminta rindu untuk ditanya

 

Di Suatu Senja Kupungut Kata  

 

jika tiap hari kau tuntaskan saja

senyummu

jadi sedekah buatku

maka alangkah indah

 

sore tadi kau mengenakan batik Kudus warna sogan

kontras dengan sampur hijau tembelekan

lihatlah detil corak itu, beras tumpah menempel di kain rokmu

merak yang anggun bertengger

jadi teman bermainmu

 

gerakanmu menari, Utari

seperti mengajak merak ikut menari

ada yang tercecer dan segera kupungut dalam saku

yakni kata-kata dari hatimu

 

jika kau goyah atau lupa

boleh kau temui diriku

tlah kusimpan tiga kata yang kau suka

masuklah dalam laci ingatanku,

untukmu, Utari

damai,

kasih,

mimpi.