Langit yang kau warnai, tak pula ku tunggu hujan datang melihat pelangi. Kata-kata terbatas darimu hanya diredam oleh suara bayu. Jejak mu berlalu membawa arti, bahkan semakin lekat terekam dalam benak.
Ada saja kiasan yang berlanjut, dan membawamu dalam kerahasiaan. Tiada pula ada waktu, merenggut mengambil jarak sejengkal. Tidak pernah.
Namun, bukankah itu kau tahu, ruang hati yang kosong. Tiada pasti kurangkai juta puisi. Sebelum kau menerimanya dalam keadaan nyata. Kujadikan dalam satu buku dalam biru haru. Sungguh, mengakali pikiran ini demikian sulit untukku.




