Langit raya beradu pandang di tingginya menara. Isyarat angin menyambut pendar senja, memenuhi cahaya di bayang langkahku. Aku mengenang samudera,ia ketenangan di hamparan kesabaran yang tak terukur.
Tampak jauh tinggi bintangku, namun kau tatap pula di tempat yang sama meski waktu yang berbeda. Mengingat waktu ku mengenalmu, samudera. Sebisa mungkin hilangkan rasa dingin bahasa diam darimu.
Atau bisakah kuhampirkan langkahku, sambil mendekati cahaya mentari dari belakang rautmu. Sementara tampaknya kian rendah kekuatanku menegakkan kepala.
Derap dan detak yang semakin lama dan menggugah pemikiran jiwaku. Satu dua waktu ku mendekati gelombangmu. Mungkin angin hanya berbisik, dan merenggutku dalam rasa tak berdaya.
Sejenak, hanya kiasan sebuah perkenalan yang dirangkai takdir Tuhan. Aku pun menahan irama debur ombak yang mengantar gugup denyut jantungku. Bukanlah ku takut, namun kuasa itu terekam menjadi tak bertenaga.




