Feeds:
Posts
Comments

Tak Pernah…

Langit yang kau warnai, tak pula ku tunggu hujan datang melihat pelangi.  Kata-kata terbatas darimu hanya diredam oleh suara bayu. Jejak mu berlalu membawa arti, bahkan semakin lekat terekam dalam benak.

Ada saja kiasan yang berlanjut, dan membawamu dalam kerahasiaan. Tiada pula ada waktu, merenggut mengambil jarak sejengkal. Tidak pernah.

Namun, bukankah itu kau tahu, ruang hati yang kosong. Tiada pasti kurangkai juta puisi. Sebelum kau menerimanya dalam keadaan nyata. Kujadikan dalam satu buku dalam biru haru. Sungguh, mengakali pikiran ini demikian sulit untukku.

Mengenang

Langit raya beradu pandang di tingginya menara. Isyarat angin menyambut pendar senja, memenuhi cahaya di bayang langkahku. Aku mengenang samudera,ia ketenangan di hamparan kesabaran yang tak terukur.
Tampak jauh tinggi bintangku, namun kau tatap pula di tempat yang sama meski waktu yang berbeda. Mengingat waktu ku mengenalmu, samudera. Sebisa mungkin hilangkan rasa dingin bahasa diam darimu.

Atau bisakah kuhampirkan langkahku, sambil mendekati cahaya mentari dari belakang rautmu. Sementara tampaknya kian rendah kekuatanku menegakkan kepala.

Derap dan detak yang semakin lama dan menggugah pemikiran jiwaku. Satu dua waktu ku mendekati gelombangmu. Mungkin angin hanya berbisik, dan merenggutku dalam rasa tak berdaya.

Sejenak, hanya kiasan sebuah perkenalan yang dirangkai takdir Tuhan. Aku pun menahan irama debur ombak yang mengantar gugup denyut jantungku. Bukanlah ku takut, namun kuasa itu terekam menjadi tak bertenaga.

I

pendar-pendar cahaya
jatuh semburat,kau tinggal cahaya merah
ku genggam setangkai, elok kupandang
bercermin kaca, wahai bening air
luas padang ilalang, berteman jiwa
yang tertambat laksana dua nada
ikut bernyanyi senandung melodi
yang tersembunyi di lubuk hati

nuansamu merenggut benak
irama jejak jantung berderap
diam mu seperti angin
berdesir ucapan dingin
tawa mu mengingat lagu
sederhana,
begitu lugu

ajariku setapak daki bukit
angkat langkahku, dan tatap warna langit
lurus tunjuk satu jalanku
arah mata angin dari seluruh penjuru
tanpa kata,
aku turut

Apa sebutan untuk lukisan hati
yang berserak tak berbentuk
sebagaimana ceritamu yang datang pergi
dan membuatku bersembunyi
sepanjang perkataan pun lidahku kelu
dan pikiranku tertahan
satu saja ketika cahaya mata mengisyaratkan padaku
akan ketidaktahuan dan rahasia

menerka, diriku
kuhampirkan langkah untuk mendaki bukit hijau
dan menikmati luasnya perasaan
bahwa horison tak berbatas
aku mampu meraih, menggenggam
tak bertepi karena keberadaanmu
ada disini kala itu

sepanjang bunga tidur
tak tersirat aku rasa
aku hanya menenggak kepolosan berbahasa
aku terjebak dalam permainan angan
atau kau bersembunyi, namun lolos dari naluriku
dan menjaga hati, sementara ku padamkan
segala duga yang menghasut

menerka, jiwaku
aku ingin berada dalam puncak
yang menghapus penglihatanku yang sempit
penantian yang tidak pasti
pengharapan yang tak tentu
23/5/2011

Aku Berbicara

Aku tersenyum,aku berbicara. Bahagia ku menyeluruh bekerja syarafku, menyanjung cerita.Aku hanya berhenti sementara,menyimak setiap berita, yang mengusik, menjawab tanya.

Hari-hari, terbaca perasaan menggugah keingintahuan. Aku ingin berlari, tertawa sambil mencari.
Mungkinkah, ketika ku berbicara
Seperti dahulu sama yang kau kata. Ku menerka,kau mengira.Melayanglah imajinasi,terbanglah… tinggi

Aku adalah Warna

DIA mencipta cahaya,aku melukis sejuta warna. Akulah yang rendah, tanpa bingkai, dan sketsa berarti.Sejenak aku melenggang, secepat pula aku berpaling.Kucari warna hilang, secepat mungkin, dan aku raih.
Bayang yang membujukku, seperti mengejar dan berlari. Aku terjatuh dalam jarak, ketinggian yang tak sampai. Serupa ku membawa mimpi-mimpi, yang belum pernah kugenggam.
Aku merindu waktu, aku mencintai senja.Singkat, terbatas, namun tak mampu ku membahasakan, selekat memori ini terkenang.Membekas.
Nikmatilah, angin yang memburu, detik yang memukulku, dan beradu jalan berbatu. Nikmatilah,di tiap pergantian suara, dan tunggulah aku pasti kan berubah

Bunga Ananda

rangkai kata, sebatas tersimpan dan bisu saja tertera
ku ingin biarkan ananda
berdiam diri, atau tunjukkan langkahmu berlari
sebisa ku berkata
kau bagai bunga-bunga dengan terpa cahaya
yang menyimpan rahasia
sementara ku belum bisa memetikmu
untuk lebih tahu
dan membawamu

kubiarkan lagu yang kucipta
memanggil angin dan mengajakmu
menari dan tersenyum untukku
tunjukkan padaku, warna yang kau cipta bersama matahari
kau cukup tahu
kesendirianku adalah menunggu

ya biarlah cahaya sepanjang hari
atau bulan, bintang menemani
di balik jendelaku
yang tersembunyi
berkata dalam hati
aku tahu…

Jakarta, 19 Januari 2011

Cahyaning Kartika

wengi kang goleki kaleresan

sajroning atiku, nyawang netramu

kang durung dumadi

ing dina iku,

sathitik pawarta,swara ing lathi

 

sanajan dalanku

miturut kahanane angin

nalika tirta lumaku nggoleki pangucapmu

ing wengi

cahyaning kartika

 

sawise anggonku nguji kaleresan

dening wektu tansah lumaku

ngrungoake tembang

nate iki aku kelingan

nyerat ukara kanggo sliramu

 

napaki lemah, nyawang segara

sakdhuwure ombak,mitutur awakku

kanthi digdaya katon cetha

ing sajroning

pangrasanmu

 

22.31

26/12

 

 



Dialog

sajroning larasku, karep gegayuhan

tansah rela sukma awakku

dikunjara dening baskara

nanging aku melu

mlaku banyu

kang tumurun saka ardi

 

sebrang aku nyawang

tumindak kiwa tengen

nengah aku mesthi kelingan

dening jangkahku

ketemu karep iki

menawa aku melu

banjur ngreksa rasane agni

 

caritamu kang digawa bayu

liyan papan nyawang bisu

saka tembang,pawarta ukara

ajeng tyas

serat pangripta

 

(Aini, Nur :2010)

 

Dialog

 

sedalam hatiku, keinginan cita

kerelaan perasaan dan ragaku

terpenjara dibawah matahari

namun, aku turut

mengalirnya aliran air

yang turun dari gunung

 

manakala ku tatap seberang

dan bertindak di kanan kiriku

di tengah, aku pasti teringat

bertemu asa ini

manakala aku turut

ku rasakan rasanya api

 

kisahmu kan dibawa angin

ruangan lain hanya menatap bisu

inilah lagu, deret kalimat berita

saat hati

menulis mencipta

Mahameru

Sakdhuwure netraku nyawang

Ukara pangripta dening carita segara

Kaliyan bayu goleki anggonmu

Nalika pitakon dening ardi

Swara tansah kang ninggali

Sawijining asma tembangku

Mahameru

 

Luruh cahyaning jaman

Kleru sukmaku, tumindak mlaku banyu

nanging serat uga miturut liyan

kang nemu gegayuhan

pramila digdaya kang luwih gumregah

banjur ragaku ora kena leren

nalika jangkahku

lumaku Mahameru

 

Sansaya raket pangucapmu

sajroning tyas, nguji larasku

pangrasan adiguna

kebak karepku umpama bagaskara

miturut nerangi

setapak dalane arga

kang bentang saka nagari

 

***

 

Mahameru

 

Saat mataku memandang di ketinggian

Tampak kalimat tercipta dari samudra

Dan angin yang mencari keberadaanmu

Ketika tanya dari gunung

Bersuara lalu meninggalkan

Salah satu nama di laguku

Mahameru

 

Luruh cahaya jaman

Jiwaku keliru  berjalan menuruti air

namun takdirku turut pada kehendak lain

dan kutemukan asa

manakala kekuatan yang kupinta lebih

dan ragaku tiada ingin meminta berhenti

sementara langkahku turut

menapak jalan Mahameru

 

Semakin lekat ucapanmu

dalam hati menguji

antara rasa dan pemikiran

memenuhi cita bagai matahari

turut menerangi

setapak jalan berliku gunung

yang terbentang pelosok negeri

 

 

 

9/1/11

20.40

Pulang

Aku mencintai deru pantai
sebagaimana kau mencintai nyanyian gunung
Keduanya mengajariku keberanian
Menghempas ombak, mendaki ketinggian

Ku ikuti bisikan gelombang
mengajakku melihat keindahan di bawahnya
Sebagaimana kau turut suara bukit
meminta melihat cakrawala di atasnya

Seperti lembutnya butir pasir
Atau cadasnya batu gunung
Menjadi satu
Dan ku merindukan desau nyiur kelana
Seperti rindu gemerisik aur menyapa

Kau memperlihatkanku
Air yang mengalir dari hulu
dengan gemericik, menderas menerpa batu
jernih menelusuri kemana bermuara
hingga saat menemuiku
air menuju hilir samudera

Jakarta,12/10/2010

Izinku untuk Tuhan

Mudah bagiMu, tak memandang singkat namaku

sebisa Engkau menghembus gerak angin

membawa debu

dan luruh catatan amalku,

namun dosa tak terhapus,masih tertera

ku bayar air mata,

tak berharga

 

Tuhanku,

Dapat pula Kau mengatur cerita hidupku

tiadakan nama,

nikmat dan ujian

tak jadi arti

tak peduli

terbangun, terseret,kupasang air muka

tiada menegur

 

Aku bernafas, mengambil karuniaMu

meski separuh, tak ingat pemberianMu

suara menyatu

semampuku menghela bebas

memimpin diri

logika

rasa

egosentris

 

Aku berdiri,tak ingat izinMu

pena ini bergerak

lisan terucap

sejengkal jejak

semampuku berdiri tegak

memimpin diri

asa

cita

aku lengah

 

Tuhanku,betapa Kau masih mengingat sebuah nama

yang lekat di diriku

dan terbentang waktu

perbaiki diri

kini

 

sekeras bisa,

aku merasa

seteguh hati,tak rintih

peka bersalah,ku resah

Tuhan, kutulis surat ini

ku meminta izin lagi,

aku berlari…

 

8/10/2010

Allah, terimakasih

Aku,Mu,(T)iara

Terlalu cepat imajinasiku
melayang lagi
Menjangkau kenyataan, seperti mimpi
Tersadar, ingin menangis
Tiada ku sadar, aku lemah
Seperti bunga yang tak pantas
menjadi bagian dari cerita
sebuah taman surga di dunia

biarlah bidadari menjanjikanku
bersamanya menjadi penghuni
istana
aku ingin menguntai mutiara
yang kujalin dengan rasa cinta
di bawah lukisan langit biru
dan air mataku berderai permata

Waktu terus berdetak, berlari
ku tak tahu batas, mungkin ini
pengingatku
cantik, seperti itu getar suaramu
padaku
hingga detik aku menyambutmu
dengan jawab
dan bergetar pula, inilah diriku

meski samudera,
dan kerahasiaanNya bisa mengubah kita
aku menanti
pagi
untukmu, siapa
yang menjalin skenario ceritaku
yang meneruskan nada-nada
ku bisa membuat lagu

8.58

5 Dec 2010

Datang lagi

Siapa yang bisa menyangka
pena pertama yang kugoreskan waktu yang lalu
hanya mengisyaratkan
pembicaraan jiwaku
kepadamu

aku tidak tahu
pada siapa kuberikan terimakasih
sementara hemisfer otak kiriku
tak bisa bekerja
jika kau tak pernah hadir

jauh sekali, pun ku tak bisa bayangkan keberadaanmu kini
dan hai cantik, ucapmu yang kuharap
secara rahasia di ratusan mil jaraknya
kesendirian, berjuang dengan perseteruan hatimu
bagai bayang, apakah ada kataku
yang kau ingat?

Selama satu jam aku menunggu di peron stasiun. Kadang mencoba berdiri, berkeliling mencoba mengusir rasa gelisahku. Sesekali kulirik petugas berseragam biru disana, tampaknya ia paham bahwa aku menunggu seseorang dengan resah.
Aku duduk ,menyilangkan kaki, merogoh ponsel yang ada dalam tas tangan. Kulihat jam berapa sekarang, hampir senja aku menantinya. Pikiranku kembali tak menentu, dan aku kembali menekan tombol, meneleponnya. Kudekatkan ponsel ke telinga, tapi hal yang sama terulang : tidak ada koneksi. Sekarang aku menyerah.

Kali ini aku mencoba menghibur hati. Kuambil sebuah mushaf kecil dalam kantong tas, ini adalah hadiah pertama darinya. Aku sangat ingat, benda itu bukan dibeli baru di toko buku, melainkan pemberian seorang ustadz untuknya, dan kini ia merelakannya untukku. Saat itu, tanpa basa-basi aku langsung terisak. Aku tersenyum sembari merasakan hangatnya air mata di pipi yang terus mengalir. Tapi ia tidak pernah tahu dalamnya perasaan ini. Ia hanya menggenggam tanganku, menepuk bahuku saja.

Mushaf itu aku baca. QS Ibrahim ayat 7, ayat yang selalu mengingatkan aku pada kesabarannya. Aku membaca ayat seterusnya, melantunkan satu persatu ayat yang menenggelamkan rasa gelisahku. Namun aku tidak bisa menyembunyikan rasa takut. Dan kerudung putih lalu basah oleh setetes air mata yang menitik. “Aku tidak boleh cengeng di hadapannya.” batinku. Diriku, selalu menebar ketenangan, kegembiraan, bukan keadaan cengeng yang mengharu biru. Segera aku menanggalkan kacamata, mengusap air mata.

Detik itu juga darahku berdesir ketika terdengar suara bahwa kereta yang kutunggu akan datang. Satu jam lebih menunggu. Perasaanku gembira bukan main. Aku berdiri, seperti halnya orang-orang yang menunggu di peron. Kurapikan kerudungku, meremas remas tangan untuk mengendalikan perasaanku.

Kereta itu muncul dari arah utara. Peluit nyaring terdengar, bercampur deru suara mesin yang mendebarkan perasaan. Lokomotif kereta tampak di mataku. Gerbong satu, dua, tiga, empat, melintas pandangan, dan saat kereta berhenti dan pintu terbuka, aku kebingungan harus menemuinya dari arah mana, orang-orang berhamburan keluar gerbong, membawa kardus-kardus, tas menggelembung besar, bergegas mencari seseorang, begitupula diriku.

“Hafidz, Hafidz, dimana dia.” aku mencari namun tetap berdiri di tempat, memperhatikan tiap gerbong, mencari ciri-ciri yang selalu kuingat darinya. Dia berjanji mengenakan pakaian berwarna cokelat, pakaian pemberianku sebulan yang lalu sebelum pergi. Continue Reading »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.