Selama satu jam aku menunggu di peron stasiun. Kadang mencoba berdiri, berkeliling mencoba mengusir rasa gelisahku. Sesekali kulirik petugas berseragam biru disana, tampaknya ia paham bahwa aku menunggu seseorang dengan resah.
Aku duduk ,menyilangkan kaki, merogoh ponsel yang ada dalam tas tangan. Kulihat jam berapa sekarang, hampir senja aku menantinya. Pikiranku kembali tak menentu, dan aku kembali menekan tombol, meneleponnya. Kudekatkan ponsel ke telinga, tapi hal yang sama terulang : tidak ada koneksi. Sekarang aku menyerah.
Kali ini aku mencoba menghibur hati. Kuambil sebuah mushaf kecil dalam kantong tas, ini adalah hadiah pertama darinya. Aku sangat ingat, benda itu bukan dibeli baru di toko buku, melainkan pemberian seorang ustadz untuknya, dan kini ia merelakannya untukku. Saat itu, tanpa basa-basi aku langsung terisak. Aku tersenyum sembari merasakan hangatnya air mata di pipi yang terus mengalir. Tapi ia tidak pernah tahu dalamnya perasaan ini. Ia hanya menggenggam tanganku, menepuk bahuku saja.
Mushaf itu aku baca. QS Ibrahim ayat 7, ayat yang selalu mengingatkan aku pada kesabarannya. Aku membaca ayat seterusnya, melantunkan satu persatu ayat yang menenggelamkan rasa gelisahku. Namun aku tidak bisa menyembunyikan rasa takut. Dan kerudung putih lalu basah oleh setetes air mata yang menitik. “Aku tidak boleh cengeng di hadapannya.” batinku. Diriku, selalu menebar ketenangan, kegembiraan, bukan keadaan cengeng yang mengharu biru. Segera aku menanggalkan kacamata, mengusap air mata.
Detik itu juga darahku berdesir ketika terdengar suara bahwa kereta yang kutunggu akan datang. Satu jam lebih menunggu. Perasaanku gembira bukan main. Aku berdiri, seperti halnya orang-orang yang menunggu di peron. Kurapikan kerudungku, meremas remas tangan untuk mengendalikan perasaanku.
Kereta itu muncul dari arah utara. Peluit nyaring terdengar, bercampur deru suara mesin yang mendebarkan perasaan. Lokomotif kereta tampak di mataku. Gerbong satu, dua, tiga, empat, melintas pandangan, dan saat kereta berhenti dan pintu terbuka, aku kebingungan harus menemuinya dari arah mana, orang-orang berhamburan keluar gerbong, membawa kardus-kardus, tas menggelembung besar, bergegas mencari seseorang, begitupula diriku.
“Hafidz, Hafidz, dimana dia.” aku mencari namun tetap berdiri di tempat, memperhatikan tiap gerbong, mencari ciri-ciri yang selalu kuingat darinya. Dia berjanji mengenakan pakaian berwarna cokelat, pakaian pemberianku sebulan yang lalu sebelum pergi. Continue Reading »